Hotline

0812-1598-7054
0857-1266-5024
 
Pin BB:522ACED0
Whatsapp:0812-1598-7054
Fan Page

Twitter

Jumlah Pengunjung

 Online : 5
 Hari ini : 101
 Kemarin : 59
 Bulan ini : 774
 Bulan Kemarin : 1.933
 Total : 92.323
Statistik
    
Artikel

Berburu Laba Jeruk BesarCetak Kirim ke Teman
Tanggal Posting Jum'at, 28 Juli 2017, 13:25 WIB  Dikirim oleh : admin (293 kali dibaca)


Qomarul Huda berbisnis pamelo sejak 2014.

Qomarul Huda berbisnis pamelo sejak 2014.

Semula menjadi pengepul, kini Qomarul Huda merangkap sebagai pekebun pamelo.

Dalam 2 tahun terakhir aktivitas Qomarul Huda ajek, mendatangi pemilik pohon pamelo di seantero Pati, Jawa Tengah. Masyarakat Pati menanam pohon anggota famili Rutaceae itu di pekarangan. Ia memburu pamelo matang, bentuk membulat, bobot rata-rata 1,2—1,7 kg per buah, serta bebas serangan hama dan penyakit. Itulah ciri khas pamelo bageng yang diminta pasar.

Menurut Qomarul pamelo bageng dari Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, bercita rasa khas, manis, tanpa biji, dan berdaging merah muda. Kebutuhan Qomarul mencapai 1,5 ton pamelo setiap pekan. Setelah menyeleksi sesuai standar mutu itu, barulah pamelo yang diinginkan. Qomarul memenuhi permintaan pembeli di Jakarta dan Denpasar, Provinsi Bali, yang rutin meminta pasokan rutin.

Mitos dekat rumah
Qomarul menjual 1 kg pamelo alias jeruk besar itu Rp17.000. Artinya pendapatan Qomarul hasil perniagaan buah Citrus grandis itu sekitar Rp102-juta setiap bulan. Pria 39 tahun itu menuturkan perniagaan pamelo sebenarnya menjanjikan karena permintaan selalu ada. Bahkan, ia pernah mendapat tawaran untuk mengirim pamelo bageng ke Korea Selatan dan Malaysia. “Tetapi saya menolak sebab harus menjaga kontinuitas produk,” katanya.

Kebun pamelo milik Qomarul Huda di Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Kebun pamelo milik Qomarul Huda di Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Yang menjadi kendala bisnis pamelo saat ini adalah produksi yang terbatas. Apalagi pohon pamelo yang ditanam warga banyak yang mati akibat cuaca ekstrem pada 2015—2016. Belum lagi banyak pohon yang sudah berumur tua dan belum ada upaya peremajaan. Pria kelahiran 19 November 1978 itu berbisnis pamelo sejak 2014.

Ketika itu ia memenuhi pesanan dari perusahaan pemasok buah di Denpasar, Bali, dan Jakarta. “Semula mereka meminta dikirim sampel buah dahulu,” kata Qomarul. Rupanya cita rasa dan penampilan buah pamelo bageng membuat para pemasok buah jatuh hati. Pada 2014 ia rutin mengirim 3 ton pamelo bageng setiap pekan dengan harga jual Rp15.000 per kg. Dari hasil perniagaan itu Qomarul memperoleh omzet Rp180-juta setiap bulan.

Permintaan pamelo itu buah kerja kerasnya. Alumnus Universitas Budi Luhur itu menjajakan pamelo bageng melalui berbagai media seperti website dan media sosial. “Media sosial menjadi sarana paling jitu untuk memperkenalkan produk dan menggaet konsumen,” katanya. Selama sebulan ia gencar menjalankan promosi untuk menarik minat masyarakat dunia maya. Lambat laun upaya itu membuahkan hasil.

Bak penampung air untuk menjaga pasokan air di musim kemarau.

Bak penampung air untuk menjaga pasokan air di musim kemarau.

Qomarul menerima pesanan dari konsumen meskipun hanya sedikit. Lambat laut permintaan kian banyak mencapai 1,5 ton per pekan. Menurut Qomarul permintaan itu konstan sepanjang tahun. Pamelo berbuah susul-menyusul sehingga ketersediaan pun terjamin. Pehobi balap kuda itu memperoleh pasokan pamelo dari para tetangga. “Inilah uniknya pamelo. Meskipun berpotensi mendatangkan rupiah, tapi nyaris tidak ada warga yang mengebunkan pamelo secara intensif,” katanya.

Kampung halaman
Di Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, pamelo tumbuh di pekarangan dan halaman rumah warga. Qomarul menuturkan warga enggan menanam pamelo lantaran ada mitos yang menyebutkan bahwa pamelo harus ditanam di sekitar rumah. “Asap dapur dan suara dengkur orang harus dekat dengan lokasi penanaman pamelo,” katanya.

Setiap pohon dilengkapi dengan pipa untuk penyiraman.

Setiap pohon dilengkapi dengan pipa untuk penyiraman.

Oleh sebab itu tidak ada kebun pamelo skala luas di desa Bageng. “Sebenarnya pamelo membutuhkan air yang cukup saat kemarau,” kata Qomarul. Sementara di desa Bageng sebagian besar warga menanam pamelo dengan pengairan tadah hujan. Warga belum memiliki sistem pengairan yang baik untuk menjaga pasokan air di kebun pamelo. Penanaman di dekat rumah membuat kebutuhan air pamelo selalu tercukupi.

“Warga bisa menyiram pamelo di pekarangan rumah setiap saat,” kata Qomarul. Karena itu pohon pun lebih diperhatikan dan terawat kesehatannya. Qomarul Huda berniaga pamelo setelah 3 tahun menganggur di kampung halaman. Semula ia bekerja di Jakarta. Hiruk-pikuk ibu kota Jakarta membuat Qomarul Huda rindu pada kampung halamannya di Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Itulah sebabnya ia melepaskan pekerjaan sebagai konsultan bidang teknologi informasi di ibu kota pada 2010. Namun, tiga tahun di kampung halaman, ia tak jua mendapat pekerjaan. Qomarul lantas berpikir untuk menggali potensi desanya. “Kebetulan desa saya berpotensi sebagai sentra pamelo. Desa saya memiliki pamelo andalan yang berkualitas. Kami menyebutnya pamelo bageng,” ujarnya.

Pamelo bageng memiliki daging buah merah muda.

Pamelo bageng memiliki daging buah merah muda.

Ia lalu mengembangkan bisnis pamelo bageng dengan mendirikan unit usaha bernama CV Pamelo Indoagri. Karena berpotensi mendatangkan rupiah, Qomarul berinisiatif membuka kebun pamelo pada 2014. Di lahan 1 hektare itu ia menanam bibit pamelo secara bertahap. Bibit berumur 2 bulan itu ditanam dengan jarak tanam 8 m x 8 m, total populasi mencapai 136 tanaman. Itulah satu-satunya kebun pamelo di Desa Bageng.

Ia ingin mematahkan mitos warga desa. “Penanaman pamelo dilakukan bertahap sebab sebagian lahan masih digunakan untuk menanam tebu,” katanya. Pohon tertua kini berumur 3 tahun mulai belajar berbuah. Jika tak ada aral Qomarul akan menuai buah perdana pada akhir 2017. Untuk menjaga pasokan air, ia memasang pipa polivinilklorida sepanjang 1,3 km dari sumber air menuju kebun. (Andari Titisari)


[http://www.trubus-online.co.id/berburu-laba-jeruk-besar/]

Artikel Lainnya :

 

Tinggalkan Komentar